KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan syukur dipanjatkan
kehadirat allah SWT karena berkat Rahmat dan Hidayah-Nya makalah yang
berjudul “FILUM PORIFERA DAN CTENOPHORA” dapat kami selesaikan
tepat pada waktunya. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan
kepada Nabi besar kita Muhammad SAW. Keluarga, Sahabat serta Umatnya
yang senantiasa mengikuti dan mengamalkan ajarannya.
“Tak
ada Gading Yang tak retak” begitulah kata pepatah.Oleh karena itu,
kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan.Semoga makalah ini
dapat bermamfaat bagi setiap pembacanya.
DAFTAR
ISI:
KATA
PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN PORIFERA
A.LATAR BELAKANG
MASALAH
B.PERUMUSAN
MASALAH
C.TUJUAN
PENULISAN MAKALAH
BAB II
PEMBAHASAN PORIFERA
A.PENGERTIAN
PORIFERA
B.CIRI-CIRI
PORIFERA
C.KLASIFIKASI
FILUM
D.PERAN PORIFERA
DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
BAB III
PENDAHULUAN CTENOPHORA
A.LATAR BE
LAKANG
B.TUJUAN
C.MANFAAT
BAB IV
PEMBAHASAN CTENOPHORA
A.DESKRIPSI
CTENOPHORA
B.KLASIFIKASI
CTENOPHORA
C.MORFOLOGI
CTENOPHORA
D.FISIOLOGI
CTENOPHORA
E.REPRODUKSI
CTENOPHORA
F.PERAN
CTENOPHORA
BAB V PENUTUP
PORIFERA
A.KESIMPULAN
BAB VI PENUTUP
CTENOPHORA
A.KESIMPULAN
BAB
I
PENDAHULUAN
PORIFERA
A.Latar
Belakang Masalah
Porifera atau biasa disebut sebagai hewan berpori berasal dari kata pori yang berarti lubang kecil dan fero yang berarti membawa atau mengandung.Contoh dari porifera adalah sponsa. Sponsa merupakan hawan yang hidup menempel pada suatu substrat di laut. Telah diketahui kira-kira 2500 spesies, ada beberapa yang hidup di air tawar, tetapi sebagian besar hidup di laut. Nama filum ini dari kenyataan bahwa tubuh porifera mempunyai pori-pori. Air beserta makanan masuk melalui pori kedalam rongga di dalam tubuh dari hewan akhirnya keluar melalui oskulum. Air yang telah disaring ini akan dibuang melalui oskulum.
Tubuh sponsa terdiri dari dua lapisan sel, diantara kedua lapisan tersebut terdapat bagian yang tersusun dari bahan yang lunak disebut mesoglea. Sel-sel yang membentuk lapisan dalam mempunyai flagea, yang mengatur aliran sel-sel ini dapat ”menangkap” partikel makanan.
Bentuk sponsa ditentukan oleh kerangka tubuh. Kerangka tersusun dari spikula. Spikula tersebut dari sel-sel yang terdapat dalam mesoglea. Spikula tersusun dari silika atau kapur (kalsium karbonat). Beberapa sponsa tidak memiliki serabut-serabut yang lentur dari zat yang disebut spongin. Sponsa terdapat di perairan yang dangkal di daerah tropis. Bila sponsa diolah dapat digunakan untuk bahan atau alat pembersih.
Seperti yang kita ketahui suatu organisme yang melekat pada suatu subsurat, harus mempunyai cara untuk menyebar keturunannya ke tempat lain.
Untuk tujuan itu sponsa menghasilkan larva kecil yang dapat ”berenang” dengan bebas. Larva tersebut memisahkan diri dari induknya dan setelah menemukan tempat hidup yang sesuai larva akan melekat disitu dan berkembang menjadi hewan dewasa.
Berdasar fosil porifera yang ditemukan menunjukkan bahwa sponsa adalah salah satu hewan yang pertama kali muncul di bumi. Tetapi tidak ada bukti bahwa ada hewan yang berkembang dari sponsa. Sponsa seakan-akan menempati suatu tempat yang agak unik dalam dunia hewan, oleh karena itu oleh bebrapa ahli taksonomi, porifera dimasukkan dalam suatu kelompok yang disebut parasoa.
Porifera atau biasa disebut sebagai hewan berpori berasal dari kata pori yang berarti lubang kecil dan fero yang berarti membawa atau mengandung.Contoh dari porifera adalah sponsa. Sponsa merupakan hawan yang hidup menempel pada suatu substrat di laut. Telah diketahui kira-kira 2500 spesies, ada beberapa yang hidup di air tawar, tetapi sebagian besar hidup di laut. Nama filum ini dari kenyataan bahwa tubuh porifera mempunyai pori-pori. Air beserta makanan masuk melalui pori kedalam rongga di dalam tubuh dari hewan akhirnya keluar melalui oskulum. Air yang telah disaring ini akan dibuang melalui oskulum.
Tubuh sponsa terdiri dari dua lapisan sel, diantara kedua lapisan tersebut terdapat bagian yang tersusun dari bahan yang lunak disebut mesoglea. Sel-sel yang membentuk lapisan dalam mempunyai flagea, yang mengatur aliran sel-sel ini dapat ”menangkap” partikel makanan.
Bentuk sponsa ditentukan oleh kerangka tubuh. Kerangka tersusun dari spikula. Spikula tersebut dari sel-sel yang terdapat dalam mesoglea. Spikula tersusun dari silika atau kapur (kalsium karbonat). Beberapa sponsa tidak memiliki serabut-serabut yang lentur dari zat yang disebut spongin. Sponsa terdapat di perairan yang dangkal di daerah tropis. Bila sponsa diolah dapat digunakan untuk bahan atau alat pembersih.
Seperti yang kita ketahui suatu organisme yang melekat pada suatu subsurat, harus mempunyai cara untuk menyebar keturunannya ke tempat lain.
Untuk tujuan itu sponsa menghasilkan larva kecil yang dapat ”berenang” dengan bebas. Larva tersebut memisahkan diri dari induknya dan setelah menemukan tempat hidup yang sesuai larva akan melekat disitu dan berkembang menjadi hewan dewasa.
Berdasar fosil porifera yang ditemukan menunjukkan bahwa sponsa adalah salah satu hewan yang pertama kali muncul di bumi. Tetapi tidak ada bukti bahwa ada hewan yang berkembang dari sponsa. Sponsa seakan-akan menempati suatu tempat yang agak unik dalam dunia hewan, oleh karena itu oleh bebrapa ahli taksonomi, porifera dimasukkan dalam suatu kelompok yang disebut parasoa.
B.Perumusan
Masalah
1.Apa ciri-ciri hewan Porifera ?
2.Ada berapa kelompokkah Klasifikasi Filum Porifera ?
3.Bagaimanakah Peran Porifera dalam Kehidupan Manusia ?
1.Apa ciri-ciri hewan Porifera ?
2.Ada berapa kelompokkah Klasifikasi Filum Porifera ?
3.Bagaimanakah Peran Porifera dalam Kehidupan Manusia ?
C.Tujuan
Penulisan Makalah1.Mengetahui
ciri-ciri hewan Porifera
2.Mengetahui kelompok Klasifikasi Filum Porifera
3.Mengetahui Peran Porifera dalam Kehidupan Manusia
2.Mengetahui kelompok Klasifikasi Filum Porifera
3.Mengetahui Peran Porifera dalam Kehidupan Manusia
BAB
II
PEMBAHASAN
PORIFERA
A.Pengertian
Porifera
Porifera
dalam bahasa latin, kata Porus berarti Pori dan Fer berarti membawa.
Porifera adalah hewan multiseluler (metazoa) yang paling sederhana.
Hewan ini memiliki ciri umum, yaitu tubuhnya berpori seperti busa
atau spons sehingga porifera disebut juga sebagai hewan spons.
B.Ciri-ciri
Porifera
1. Sudah merupakan Metazoa (Metazoa tingkat rendah), (Metazoa = hewan bersel banyak), sebab walaupun tubuhnya sudah berdiri dari banyak sel tetapi jaringan tubuhnya masih sederhana karena :
a. Belum mempunyai organ tubuh yang khusus
b. Belum mempunyai sistem saraf
Yang menanggapi rangsang adalah sel-sel individual.
c. Belum mempunyai saluran pencernaan makanan yang khusus.
Pencernaan makanan secara intra seluler (pencernaan makanan dalam sel) karena masih intraseluler maka disebut Parazoa.
2. Dinding tubuhnya berpori-pori (maka disebut Porifera) dan sudah mempunyai sistem canol.
3. Dinding tubuhnya terdiri dari 2 lapis antara lain :
a. Lapisan luar = epidermis
Tersusun dan dermal-dermal epitelium
b. Lapisan dalam
Tersusun dari Choanocyte = deretan sel leher masing-masing Choanocyle dilengkapi dengan Flogellum diantara 2 lapisan (lapisan dalam dan luar) terhadap zat antara berupa gelotin yang disebut Mesoglea atau Mesenchym.
4. Tubuh dilengkapi kerangka yang berupa Spicula-spicula yang berasal dari :
- Kapur (Ca CO3)
- Silicat (H9 Si3O2)
- Campuran kapur + silikat
Kerangka tersebut terdapat didalam lapisan Mesogles.
5. Tempat hidup
- Dilaut (kebanyakan)
- Air tawar (beberapa)
6. Pada tubuh Porifera terdapat pori-pori sebagai jalan masuknya air yang membawa makanan, kemudian oleh flagela yang ada pada koanosit, zat-zat makanan tadi akan ditangkap dan akan dicerna oleh koanosit atau sel leher. Setelah makanan tercerna, oleh sel amoebosit, maka sari-sari makanan akan diedarkan ke seluruh tubuh. Air yang sudah tidak mengandung zat-zat yang sudah tidak dibutuhkan oleh tubuh akan dikeluarkan melalui oskulum. Di antara lapisan ektoderm dan endoderm terdapat rongga yang disebut mesenkim atau mesoglea tempat dari sel amoeboid dan skleroblast yang merupakan penyusun rangka atau spikula berada. Porifera tidak mempunyai sel saraf. Sel-sel pada Porifera sensitif terhadap rangsang antara lain choanocyt dan myocyt, karena itu gerakan dari flagellum pada choanocyt tergantung pada keadaan lingkungan.
1. Sudah merupakan Metazoa (Metazoa tingkat rendah), (Metazoa = hewan bersel banyak), sebab walaupun tubuhnya sudah berdiri dari banyak sel tetapi jaringan tubuhnya masih sederhana karena :
a. Belum mempunyai organ tubuh yang khusus
b. Belum mempunyai sistem saraf
Yang menanggapi rangsang adalah sel-sel individual.
c. Belum mempunyai saluran pencernaan makanan yang khusus.
Pencernaan makanan secara intra seluler (pencernaan makanan dalam sel) karena masih intraseluler maka disebut Parazoa.
2. Dinding tubuhnya berpori-pori (maka disebut Porifera) dan sudah mempunyai sistem canol.
3. Dinding tubuhnya terdiri dari 2 lapis antara lain :
a. Lapisan luar = epidermis
Tersusun dan dermal-dermal epitelium
b. Lapisan dalam
Tersusun dari Choanocyte = deretan sel leher masing-masing Choanocyle dilengkapi dengan Flogellum diantara 2 lapisan (lapisan dalam dan luar) terhadap zat antara berupa gelotin yang disebut Mesoglea atau Mesenchym.
4. Tubuh dilengkapi kerangka yang berupa Spicula-spicula yang berasal dari :
- Kapur (Ca CO3)
- Silicat (H9 Si3O2)
- Campuran kapur + silikat
Kerangka tersebut terdapat didalam lapisan Mesogles.
5. Tempat hidup
- Dilaut (kebanyakan)
- Air tawar (beberapa)
6. Pada tubuh Porifera terdapat pori-pori sebagai jalan masuknya air yang membawa makanan, kemudian oleh flagela yang ada pada koanosit, zat-zat makanan tadi akan ditangkap dan akan dicerna oleh koanosit atau sel leher. Setelah makanan tercerna, oleh sel amoebosit, maka sari-sari makanan akan diedarkan ke seluruh tubuh. Air yang sudah tidak mengandung zat-zat yang sudah tidak dibutuhkan oleh tubuh akan dikeluarkan melalui oskulum. Di antara lapisan ektoderm dan endoderm terdapat rongga yang disebut mesenkim atau mesoglea tempat dari sel amoeboid dan skleroblast yang merupakan penyusun rangka atau spikula berada. Porifera tidak mempunyai sel saraf. Sel-sel pada Porifera sensitif terhadap rangsang antara lain choanocyt dan myocyt, karena itu gerakan dari flagellum pada choanocyt tergantung pada keadaan lingkungan.
Struktur
dan Fungsi Tubuh
Tubuh
porifera belum membentuk jaringan dan organ sehingga porifera
dikelompokkan dalam protozoa.Tubuh memiliki banyak pori-pori (ostium)
yang merupakan celah masuknya air ke rongga dalam tubuh yang
berukuran lebih lebar yang disebut spongocoel. Dari spongocoel, air
kemudian keluar melalui oskulum, yang terdapat dipermukaan oral
(atas) tubuh.
Struktur
anatomi porifera :
1.Lapisan
luar tubuh (epidermis) terdiri dari selapis sel yang membentuk
celah-celah kecil yang disebut ostium. Sel yang membentuk dan
menggerakkan ostium disebut porosit.
2.Lapisan
dalam (endodermis) terdiri atas sel berbentuk leher yang disebut
koanosit. Koanosit memiliki inti, vakuola dan flagela yang berkaitan
dengan fungsi sel ini sebagai ‘alat’ pencernaan. Pencernaan
terjadi di dalam koanosit, oleh karena itu disebut memiliki
pencernaan interseluler.
Antara
tubuh bagian luar dan dalam terdapat lapisan tengah
(mesoglea/mesenkim) yang terdiri dari 3 model sel, yaitu amubosit dan
skleroblast dan arkeosit. Dinamakan amubosit merujuk kepada bentuk
dan sifat selnya yang menyerupai bentuk dan sifat amuba, yang mudah
berubah bentuk. Skleroblast menghasilkan rangka yang disebut spikula.
Spikula umumnya terbuat dari mineral kalsium karbonat dan silika,
sedangkan yang lain terbuat dari bahan organik spongin. Sedangkan
arkeosit berfungsi dalam reproduksi sel secara seksual.
Porifera
belum memiliki sistem pencernaan yang sempurna.Pencernaan dilakukan
secara sederhana dengan cara menyaring makanan, berupa plankton dan
bakteri, yang terlarut dalam air. Sel yang berperan dalam proses ini
adalah koanosit. Setelah itu, maka tugas selanjutnya, yaitu
mengedarkan makanan dilakukan oleh amubosit. Amubosit pula yang
berperan mengangkut zat sisa pencernaan untuk dibuang.
Cara
Hidup dan Habitat
Porifera
hidup secara heterotof. Makanannya adalah bakteri dan
plankton.Makanan yang masuk kedalam tubuhnya berbentuk cairan
sehingga porifera disebut juga sebagai pemakan cairan. Pencernaan
dilakukan secara intraseluler di dalam koanosit dan amoebosit.
Habitat
porifera umumnya di laut, mulai dari tepi pantai hingga laut dengan
kedalaman 5 km.Sekitar 150 jenis porifera hidup di ait tawar,
misalnya Haliciona dari kelas Demospongia.
Porifera
yang telah dewasa tidak dapat berpindah tempat (sesil), hidupnya
menempel pada batu atau benda lainya di dasar laut. Karena porifera
yang bercirikan tidak dapat berpindah tempat, kadang porifera
dianggap sebagai tumbuhan.
Reproduksi
Porifera
melakukan Reproduksi Aseksual maupun Reproduksi Seksual.
1.Reproduksi
secara aseksual terjadi dengan pembentukan tunas dan gemmule. Gemmule
disebut juga tunas internal. Gemmule dihasilkan hanya menjelang musim
dingin di dalam tubuh porifera yang hidup di air tawar. Porifera
dapat membentuk individu baru dengan regenerasi.
2.Reproduksi
seksual dilakukan dengan pembentukan gamet (antara sperma dan ovum).
Ovum dan sperma dihasilkan oleh koanosit. Sebagian besar Porifera
menghasilkan ovum dan juga sperma pada individu yang sama sehingga
porifera bersifat Hermafrodit.
C.Klasifikasi
Filum Porifera
Berdasarkan
bahan penyusun rangkanya, porifera diklasifikasikan menjadi tiga
kelas, yaitu Hexactinellida atau Hyalospongiae, Demospongiae, dan
Calcarea (Calcisspongiae).
Hexactinellida
Kerajaan:
Animalia
Filum:
Porifera
Kelas:
Hexactinellida (Schmidt, 1870)
Sub
Kelas: Hexasterophora dan Amphidiscophora
Order
: Amphidiscosida
Order
: Aulocalycoida, Hexactinosa dan Lychniscosa
Hexactinelida
merupakan porifera yang tersebar luas pada semua lautan. Habitat
utama dari porifera ini adalah pada lautan dalam. Ciri yang
membedakan kelas ini dari kelas lain adalah kerangkanya yang disusun
oleh spikula silikat. Kerangka spons pada kelas hexactinelida tidak
memiliki jaringan spongin. Sel epithelium dermal dan koanosit
terbatas pada bentuk-bentuk ruang yang tersembunyi.
a.Sub
Kelas Hexasterophora
Ciri
khas yang ada pada subkelas ini adalah microscleres parenchimalnya
berupa hexaster. Contoh Euplectella.
b.
Sub Kelas Amphidiscorpha
Ciri
utama pada sub kelas ini adalah microscleres parenchimalnya berupa
Amphidics. Contoh Hyalonema.
Demospongiae
Kingdom:
Animalia
Filum
: Porifera
Kelas
: Demospongiae
Ordo
: Halichondrida
Porifera
yang termasuk dalam kelas Demospongia memiliki kerangka berupa empat
spikula silica atau dari serabut spongin atau keduanya. Beberapa
bentuk primitive tidak memiliki rangka. Tipe saluran air yang ada
pada spons ini berupa Leuconoid. Porifera yang masuk dalam kelompok
Demospongia memiliki penyebaran yang paling luas dari daerah tidal
hingga kedalaman abvasal. Beberapa bentuk memiliki habitat di air
tawar.
a.Sub
kelas Tetractinomorpha
Ciri
Utama dari sub kelas Tetractinomorpha adalah memiliki megaskleres
tetraxonid dan monoxonid, mikroskleres asterose dan kadang-kadang
tidak memiliki serat spongin. Tubuh spons ini memiliki bentuk radial
dan perkembangan cortical axial mengalami kemajuan. Kelompok ini
mencakup spesies ovipar dengan stereogtastrula. Famili yang primitive
menetaskan amphiblastulae.
1.Ordo
Homosclerophorida
Porifera
dalam ordo ini merupakan Tetractinomorpha primitive yang memiliki
struktur Leuconoid homogen dengan sedikit dareah terdeferensiasi .
Larva menetas berupa amphiblastula. Spikulanya berupa teract
berukuran kecil. Beberapa spesies tidak memiliki rangka seperti pada
Oscarella.
2.Ordo
Choristida
Porifera
yang termasuk ordo Choristida paling tidak memiliki beberapa
megaskleres tetraxons, biasanya berupa triaenes, mikroskleres berupa
aster, sterptaster atau sigmasprae yang khas. Bentuk tubuhnya
seringkali rumit. Spons ini memiki korteks yang dapat dibedakan
secara jelas dan seringkali tersusun atasnlapisan fibrosa di sebelah
dalam dan lapisan gelatin di bagian luar. Contoh Geodia dan
Aciculites.
b.Sub
Kelas Ceractinomorpha
Ciri
utama yang menjadi dasar pengklasifikasian dari sub kelas
Ceractinomorpha adalah larvanya yang berupa stereogastrula,
megaskleresnya berupa monaxonid, dan mikrosklesesnya berupa sigmoid
atau chalete. Aster tidak pernah ditemukan. Pada rangkanya juga
sering ditemukan sponging B tetapi dalam jumlah yang bervariasi.
1.Ordo
Halichondrida
Porifera
yang ada dalam ordo Halichomonacndrida memiliki Kerangka megaskleres
berupa monactinal dan atau diactinal serta tidak memiliki
microskleres. Contoh:Halichondrida, Hymeniacidondan, Ciocalypta.
2.
Ordo Poecilosclerida
Porifera
yang masuk dalam ordo ini memiliki rangka yang selalu mengandung
megaskleres choanosomal dan dermal. ContohCoelosphoera dan Myxilla.
3.
Ordo Haplosclerida
Porifera
ini kadang-kadang memiliki rangka silikat yang jika ada terbuat dari
kategori tunggal dari megaskleres yang terletak pada serat spongin
atau bergabung dalam suatu anyaman yang diikat dengan perekat
spongin. Contoh:Haliclona.Megaskleresnya berupa diactinal dan
kadang-kadang berupa monactinal yang sedikit bervariasi dalam hal
ukuran. Jika ada, mikroskleresnya berupa Chelate, taxiform, sigmoid
atau raphdes.
Beberapa
genus seperti Dactyliatidak memiliki spikula dan mempunyai rangka
dari serat sponin. Rangka dermal berspikula tidak pernah ada . Dermal
yang terspesialisasi hanya terlihat pada Callyspongiidae dimana suatu
jaringan yang kompleks dari serat spongin bercabang-cabang menembus
lapisan dermal. Contoh Callyspongia
4.
Ordo Dictyoceratida
Porifera
yang masuk dalam ordo Dictyoceratida tidak meiliki spikula. Rangka
sepenuhnya tersusun dari suatu anyaman dari serat spongin yang bisa
menyertakan partikel lain seperti pasir,kerang ,spikula atau spons
lain. Lapisan dermal sering diperkuat oleh spongin A.
Calcarea
Kerajaan
: Animalia
Filum
: Porifera
Kelas
: Calcarea
Calcarea
merupakan spons yang hidup di laut. Spons ini memiki kerangka spikula
dari zat kapur yang tidak terdeferensiasi menjadi megaskleres dan
mikroskleres. Bentuk spons ini bervariasi dari bentuk yang menyerupai
vas dengan simetri radial hingga bentuk bentuk koloni yang membentuk
bangunan serupa anyaman dari pembuluh-pembuluh yang kecil hingga
lembaran dan bahkan ada yang mencapai bentuk raksasa.
a.Sub
kelas Calcaronea
Ciri
khas dari sub kelas ini adalah larvanya yang berupa larva
amphibalstulae. Koanosit terletak pada posisi apical. Flagela dari
tiap koanosit muncul dari nucleus. Spikula triradiate biasanya satu
helai yang terpanjang dari yang lain . Struktur tipe saluran air yang
ada pada sub kelas ini berupa tipe leuconoid yang berasal dari tipe
syconoid.
1.Ordo
Leucosolenida
Tipe
ini memiliki struktur Asconoid. Contoh Leucosolenia
2.Ordo
Sycettida
Tipe
saluran air yang ada pada ordo ini ada yang berupa Syconoid atau
Leuconoid. Contoh Sycon.
b.Sub
Kelas Calcinea
Ciri
khas yang ada sub kelas Calcinea adalah larvanya yang berupa
parenchymula dan flagella dari koanosit muncul tersendiri dari
nucleus koanosit yang menempati dasar sel.Pada sebagian besar spesies
triradiata , spikula memiliki ukuran yang sama. Bentuk Leuconoid yang
ada pada sub kelas ini tidak berasal dari tipe syconoid tetapi
langsung berupa anyaman dari asconoid.
1.
Ordo Clathrinida
Ciri
khas dari ordo ini adalah tipe saluran airnya berupa asconoid yang
secara permanen serta tidak memiliki membrane dermal atau korteks.
Contoh Clathrina
2.
Ordo Leucettida
Ciri
khas dari Ordo ini adalah tipe saluran air yang berupa Syconoid
hingga Leuconoid dengan membrane dermal atau korteks yang jelas.
Contoh Leucascus levcetta.
3.
Ordo Pharetronida
Ciri
khas yang ada pada ordo ini adalah tipe saluran airnya yang berupa
Leuconoid dan rangka tersusun dari spikula quadriradiata yang
disertai penguat calcareous. Contoh Petrobiona dan
Minchinella.
D.Peran Porifera dalam Kehidupan Manusia
Sebagai
makanan hewan laut lainnya
Sebagai
sarana kamuflase bagi beberapa hewan laut
Sebagai
hiasan akuarium
Sebagai
alat penggosok untuk mandi dan mencuci jenis hippospongia
Porifera
yang dijadikan obat kontrasepsi (KB)
Sebagai
obat penyakit kanker dan penyakit lainnya
Sebagai
campuran bahan industri (kosmetik
Gambar untuk porifera :
Gambar untuk porifera :
BAB
III
PENDAHULUAN
CTENOPHORA
A.Latar
Belakang
Kita
sering melihat apa yang namanya hewan. Hewan merupakan sekelompok
organisme yang digolongkan dalam Kingdom Animalia yang merupakan
mahluk hidup di bumi ini. Hewan diklasifikasikan menjadi vertebrata
dan avertebrata. Vertebrata merupakan jenis hewan yang bertulang
belakang seperti ikan, burung, katak, buaya, lumba – lumba, dan
lain sebagainya. Sedangkan avertebrata adalah kebalikan dari
vertebrata, yaitu hewan yang tidak bertulang belakang seperti cacing,
teripang, ubur – ubur, serangga, dan lain sebagainya.
Selain itu, hewan – hewan yang tak bertulang belakang atau hewan avertebrata digolongkan dalam beberapa filum. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini saya akan menyusun sebuah makalah tentang filum Ctenophora yang merupakan salah satu filum avertebrata.
B.Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu sebagai berikut :
1.siswa dapat mengenal filum ctenophora.
2.siswa dapat mengetahui klasifikasi filum ctenophora.
3.siswa dapat mengetahui morfologi filum ctenophora.
4.siswa dapat mengetahui fisiologi filum ctenophora.
5.siswa dapat mengetahui reproduksi filum ctenophora.
6.siswa dapat mengetahui peranan filum ctenophora.
C.Manfaat
Adapun manfaat dari makalah ini yaitu siswa dapat mengetahui dan mengenal filum ctenophora
BAB IV
PEMBAHASAN
CTENOPHORA
A.Deskripsi Ctenophora
Ctenophora adalah salah satu filum hewan invetebrata. Anggota filum ini menyerupai hewan ubur-ubur. Walaupun secara klasifikasi berbeda filum, awalnya Ctenophora dikelompokkan dengan Cnindria dalam filum Coelenterata. Akan tetapi setelah disadari adanya perbedaan menyebabkan spesies Ctenophora ditempatkan pada filum yang terpisah.
Ctenophore berasal dari bahasa Yunanikteno / kteisyang berarti "sisir" dan phore, "pembawa" yang dalam bahasa Latin disebut ctenophorus. Fitur yang paling khas pada mereka adalah "sisir" dan kumpulan silia yang mereka gunakan untuk berenang. Mereka adalah hewan terbesar yang berenang dengan menggunakan silia.
Ctenophora memiliki ukuran beberapa milimeter sampai 1,5 m. Seperti cnidaria , tubuh mereka terdiri dari massa jelly, dengan satu lapisan sel di luar dan lain melapisi rongga internal. Saat ini terdapat kurang lebih 150 spesies.
B.Klasifikasi
Ctenophora
Semua hewan yang tergolong Ctenophora hidup di laut.Ctenophora terdiri dari dua kelas, yaitu kelas Nuda dan kelas Tentaculata. Kelas Nuda dekelompokkan menjadi 1 ordo yaitu Berioda. Kelas Tentaculata dikelompokkan mejadi 4 ordo yaitu Cestida, Cydippida, Lobata, dan Platyctenida.
Salah satu ciri khas yang membedakan Tentaculata dan Nuda adalah tentakelnya. Tentaculata mempunyai tentakel yang dilengkapi sel colloblasts untuk menagkap mangsanya. Sementara kelas Nuda tidak mempunyai tentakel. Kelas Nuda menangkap mangsanya dengan membuka rongga mulutnya dengan lebar. Berikut ini gambar ctenophora dari kelas Tantacula.
C.Morfologi Ctenophora
Ctenophora memiliki bentuk tubuh yang bulat, lonjong, lunak dan simetris radial. Salah satu keunikan Ctenophora adalah mampu mengeluarkan cahaya dari tubuhnya sendiri.. Bagian permukaan luar Ctenophora mempunyai delapan baris sisir yang disebut dengan cilia yang dapat digunakan sebagai alat gerak. Oleh karena itu, hewan ini dikenal sebagai ubur-ubur sisir karena secara vertikal tubuhnya terbagi oleh 8 helai cilia yang tampak seperti deretan sisir.Ctenophora memiliki mulut untuk masuknya makanan serta dua lubang anus untuk mengeluarkan air dan kotoran di ujung yang lain.
D.Fisiologi
Ctenophora
Ctenophora adalah hewan diplobastik yaitu hanya mempunyai dua lapisan badan yang terdiri dari dua lapisan sel transparan yang hanya menyusun kulit terluarnya (ektoderm) dan kulit bagian dalam (gastroderm).Dinding tubuh Ctenophora dapat dibedakan menjadi mesoderma dan endoderma.
E.Reproduksi
Ctenophora
Hampir semua spesies Ctenophora adalah hermafrodit atau memiliki alat kelamin ganda. Reproduksi Ctenophora dilakukan secara seksual. Meskipun ada beberapa spesies yang melakukan reproduksi secara aseksual dengan cara fragmentasi.
Alat reproduksi Ctenophora terletak di bawah cilia. Sel ovum dan sperma dilepaskan melalui pori – pori yang ada di epidermis. Sebagian besar spesies Cnetophoa melakukan pembuahan secara eksternal atau diluar tubuh Cnetophora, meskipun ada beberapa spesies yang melakukannya secara internal.
F.Peranan
Ctenophora
Ctenophora mempunyai peranan positif dan negatif. Peranan posisti ctenophora diantaranya adalah ikut menjaga keseimbangan ekosistem di laut. Hal karena Ctenophora suka memakan fitoplankton(plankton tumbuhan). Selain itu juga Ctenophora juga sebagi sumber makanan bagi hewan laut seperti: Salmon, penyu, dan ubur ubur.
Namun Ctenophora juga memiliki dampak negatif yaitu membawa kerugian bagi peternakan tiram karena hewan-hewan ini memakan larva-larva tiram sehingga merugikan petani tiram. Selain itu, bila terjadi ledakan populasi, maka dapat membuat ekosistem tidak seimbang. Hal ini pernah terjadi di tahun 1989 di Laut Hitam saat Ctenophora memkan larva ikan Pelgis.Dan tahun 1999 di Laut Kaspia. Hasilnya adalah bahwa 75% dari zooplankton sudah habis, sehingga mempengaruhi seluruh rantai makanandanau.
BAB V PENUTUP PORIFERA
A.Kesimpulan
Filum
porifera telah ada di laut sejak jaman prokambium sekitar 600 juta
tahun yang lalu, berdasarkan cacatan fosil.Asal usul hewan porifera
mengisyaratkan hewan ini merupakan turunan dari koloni protozoa jenis
'choanoflagellata'.
'Hewan spons' itulah sebutan untuk filum porifera, disebabkan seluruh permukaan tubuh hewan ini lobang-lubang kecil (pori). Porifera merupakan hewan yang paling sederhana dari organisme multiseluler dan sebagian besar hidup di laut. Saat ini telah ditemukan 5000 - 10.000 species, dan hanya 150 species yang hidup di air tawar, umumnya hewan ini sebagai bentik di perairan.
'Hewan spons' itulah sebutan untuk filum porifera, disebabkan seluruh permukaan tubuh hewan ini lobang-lubang kecil (pori). Porifera merupakan hewan yang paling sederhana dari organisme multiseluler dan sebagian besar hidup di laut. Saat ini telah ditemukan 5000 - 10.000 species, dan hanya 150 species yang hidup di air tawar, umumnya hewan ini sebagai bentik di perairan.
Porifera bereproduksi melalui dua cara, yaitu secara generatif ataupun secara vegetatif. Reproduksi generatif, yaitu dengan sel-sel kelamin yang dihasilkan oleh sel amoeboid. Porifera termasuk hewan monoesius atau hermafrodit karena dalam satu tubuh bisa menghasilkan dua sel kelamin sekaligus. Reproduksi vegetatif dengan pembentukan tunas ataupun kuncup. Ketika kuncup atau tunas-tunas tersebut lepas akan tumbuh menjadi individu baru. Apabila Porifera berada dalam lingkungan yang kering, maka akan membentuk gemmule atau kuncup dalam yang nantinya juga bisa tumbuh menjadi individu baru.
Tubuh Porifera yang sudah mati dapat dimanfaatkan sebagai penggosok ketika mandi ataupun mencuci. Selain itu, dapat juga dimanfaatkan sebagai hiasan yang ada pada akuarium.
BAB
VI
PENUTUP
CTENOPHORA
A.Kesimpulan
Setelah menyusun makalah ini dapat ditarik kesimpulan :
1.Ctenophora adalah salah satu filum hewan invetebrata. Anggota filum ini menyerupai hewan ubur-ubur.
2.Ctenophora terdiri dari dua kelas, yaitu kelas Nuda dan kelas Tentaculata. Kelas Nuda dekelompokkan menjadi 1 ordo yaitu Berioda. Kelas Tentaculata dikelompokkan mejadi 4 ordo yaitu Cestida, Cydippida, Lobata, dan Platyctenida.
3.Ctenophora memiliki bentuk tubuh yang bulat, lonjong, lunak dan simetris radial.
4.Ctenophora adalah hewan diplobastik yaitu hanya mempunyai dua lapisan badan ektodrem dan gastroderm.
5.Reproduksi Ctenophora dilakukan secara seksual. Meskipun ada beberapa spesies yang melakukan reproduksi secara aseksual dengan cara fragmentasi.
6.Ctenophora mempunyai peranan positif dan negatif. Peranan posisti ctenophora diantaranya adalah ikut menjaga keseimbangan ekosistem di laut. Dampak negatifnya apabila terjadi ledakan populasi, maka dapat membuat ekosistem tidak seimbang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar